Selasa, 08 Februari 2011

IndonesiaKita

Apa Jadinya Indonesia Kita Nanti?

Akhir-akhir ini, Indonesia sepertinya benar-benar diuji sebagai sebuah negara yang berasaskan hukum, Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD yang hukumnya berlandas pada KUHP, tetapi pada kenyataanya yang sangat memprihatinkan, UUD yang kemudian menjadi Ujung Ujungnya Duit dan KUHP yang menjadi Kalau ada Uang Habis Perkara. Tapi melihat fakta yang ada, semuanya memang benarkan? Kasus Century, Mafia Pajak, Rekening Gendut Perwira Polisi, and bla bla bla etc, yang rasanya tidak bisa lagi didaftar, terlalu malu nanti Indonesia. And the last and now be TT on Twitter kasus Century yang menyeret seorang Ibu dari seorang yang hebat Alanda Kariza, mencurahkan isi hati dan kekecewaannya terhadap hukum di Indonesia, saking kecewanya dia menulis seperti ini...
".......Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan – mungkin – untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu. Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik – di rumah kami yang tidak besar tapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal tapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan. Uang, politik, hukum yang ada di negara ini menghancurkan bayangan saya tentang hal itu. Mungkin selamanya pilar-pilar hukum hanya akan mempermasalahkan kredit-kredit macet, menjebloskan orang-orang ‘kecil’ ke penjara tanpa bukti dan analisa yang komprehensif (maupun putusan yang masuk di akal), bukan 6,7T yang entah ada di mana saat ini. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh. Supaya mereka tidak harus menghadapi ketidakadilan yang menjijikan seperti ini........"
Saya akui sangat menggugah dan sesuai dengan realita sekarang. Betapa orang-orang yang hebat sedari kecil di Indonesia yang seringkali menjuarai pentas Internasional seperti Olimpiade Fisika,Kimia bla bla bla, kemudian menghilang begitu saja. Mereka lebih memilih dipinang negara lain yang bisa menjamin hidup mereka dengan menukar bakat-bakat hebat meraka. Lalu apa sisanya untuk negara kita? Apa hanya tersisa orang-orang gila harta tanpa kerja?

"Too much drama in this country", saya harus setuju dengan kalimat ini, yang tentunya anda juga akan setuju, belum lagi dilema perebutan kekuasaan para elit politik, pencitraan yang terlalu berlebihan, mencari ladang politik yang basah, klaim pemerintah terhadap kemajuan negara ini -helloooo, maju kemana??maju kebelakang??- kalau saya pikir pemerintah kita terlalu memikirkan angka tanpa melihat proses jadinya angka-angka tersebut. Ini yang benar-benar saya sayangkan, kemajuan ekonomi, kurangnya kemiskinan di Indonesia -hah,kurang apanya?? kekurangan iya!!- Rasanya terlalu banyak kekecewaan saya untuk negeri ini, benar-benar terlalu banyak ketidakadilan, terlalu banyak kebohongan.
Sebenarnya kalau pemerintah jujur akan keadaan Indonesia sekarang mungkin rakyat tidak akan terlalu kecewa, karena rakyat Indonesia paham bagaimana sulitnya memperbaiki keadaan bangsa ini, yang sudah terlanjur kacau balau, memperbaiki sebuah negara tentunya tidak semudah menginstal kembali sebuah PC yang rusak karena virus, kita semua tahu itu!! Berusahalah jujur wahai para elit politikku, maka senantiasa rakyat akan membantumu meperbaiki negara kita yang tercinta ini, jangan selalu merasa hebat karena tanpa kami kalian tidak akan pernah ada.